Community Stories. Get Inspired, Get Underlined

A little thing called beginning

By @spacetoonie

Chapter 1.1

Pancaran cahaya dari lampu yang berkilau menghiasi sisi-sisi ruangan itu. Indoor Ballroom yang sangat luas nan elegan menjadi titik perkumpulan banyak orang.

Disaat dua anak adam melangkah kaki mereka melewati pintu masuk, seketika seluruh perhatian menuju pada mereka, seolah-olah acara ini adalah milik mereka berdua.

Tay yang dengan begitu bangganya berjalan melewati banyak wanita yang menatapnya dengan begitu terpesona. Tay dengan setelan hitam pekat dipadukan dengan kemeja putih bercorak bunga biru dan New dengan kemeja putih dibalut vest coklat tua tak lupa setelan jasnya yang berwarna coklat muda (benar-benar sesuai dengan dresscode-nya ya kan), meskipun Tay memakai pakaian diluar dresscode yang ditentukan tapi sepertinya tidak ada yang mempermasalahkan hal ini, kecuali New. Apapun yang dikenakannya seperti memang khusus dibuat untuknya sendiri *ucap seorang netizen dari social media Tay.

“Gue kesana ya,” New berbisik sebentar pada Tay dan segera ingin meninggalkan manusia satu ini. Sungguh, New memang sering tampil didepan publik dan menemani Taylor sang pusat perhatian kemanapun. Tetapi tak sekalipun ia menyukai menjadi pusat perhatian.

Terlambat. Tay sudah menahan tangan New terlebih dahulu, ia menariknya perlahan, “Mau kemana?” bisik Tay.

“Gue ga suka jadi pusat perhatian, lo tau itu.” balasnya sinis.

Let’s get a drink somewhere,”

Ok”

Look at what we got here, Taylor! Long time no see, apa kabar?” Seorang pria yang terlihat lebih tua dari Tay dan New menginterupsi Tay yang hendak mengajak New pergi ke sudut ruangan.

Tay balas tersenyum kepada pria tua itu, namun ia langsung menoleh kearah New- meminta bantuan lebih tepatnya. Tay tidak mudah untuk mengingat orang yang hanya ia temui satu atau dua kali.

“Pak Podd. Direktur keuangan kantor pusat.” New berbisik pada Tay sambil berpura-pura membenarkan kerah baju Tay.

“Pak Podd! Been a long time, how are you?” ucapnya antusias, mengajak pria berumur akhir 30an untuk berjabat tangan.

Keduanya asik berbincang hingga,

“Kamu Nicholas kan? Tay’s secretary, am I right?” Pak Podd menunjuk kearah New.

“Betul, Pak.” New tersenyum dan menyalami Pak Podd.

“Nick, Taylor saya pinjam dulu ya, ada yang ingin saya bahas,” ujarnya ramah.

New sedikit tergelak karena Pak Podd meminta izin terlebih dahulu, “Silahkan, Pak. Saya akan ke drink stall, bapak mau minum apa, biar saya ambilkan?”

“Eh? Boleh deh, saya titip lemonade saja ya deh. Thank you, Nick.”

New tau. Tay sedang menatapnya dengan pandangan tidak suka. Tay benar-benar anti dengan New yang bersikap seolah-olah menjadi pesuruh bagi siapa saja. Namun, Tay sudah mampu mengendalikan dirinya.

New menyentuh punggung Tay dan berbisik, “Gapapa, sekalian gue haus”.

“Lo mau minum apa?” kini vokalnya sudah membiasa, mungkin Pak Podd juga bisa mendengar suara New.

“Samain aja sama lu,” katanya singkat. Tak menoleh kearah New barang sedikitpun.

Sehabis memberikan minum untuk Pak Podd dan Tay, New meninggalkan mereka berdua yang kelihatannya masih ada hal yang perlu dibicarakan. Hari ini ia sepenuhnya menjadi Nicholas, kalau ditanya bagaimana jika ada yang memanggilnya New tiba-tiba? Jawabannya adalah New sudah bisa mengontrol dirinya sendiri. Hanya suara Tay, Mark dan Chan lah yang ia simpan saat kata-kata ‘New’ terlontar dari bibir mereka.

Ia asik memuja kemegahan dekorasi ruangan tersebut hingga ia hampir saja menabrak seseorang yang memotong langkahnya.

“Nicky!” Wanita dengan gaun yang panjangnya selutut dengan style sabrina dan terdapat rumbai-rumbai berbahan brukat memperindah pakaiannya, menyapa New.

“Eh, Kak Emma, dari tadi?”

Emma mengangguk, “Tay dimana?”

New menoleh ke tempat dimana Tay berada, “Itu kak”

“Ow… Mr. Podd, kebiasaan Mr. Podd dimanapun dan kapanpun ngomongin budget” keluh Emma yang membuat New tertawa. “Wanna grab drinks but not at this stall, next from this room?

Sure!”

Tay melihat New yang keluar dari ruangan dengan Emma. Sebenarnya ia sudah dari tadi mengirim pesan pada New, karena jujur Tay tidak mengerti apa yang Pak Podd bicarakan padanya. Budget? Ok, Tay mengerti apa itu budget. Tapi Tay belum sepenuhnya bekerja di perusahaan Vihokratana, ia bahkan masih dalam masa perkuliahannya.

sial. gua sama sekali ga ngerti ini om-om ngomong apaan.

Join the conversation

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Post a comment
0 Likes 0 Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Become a Book Nerd

When you’re not reading books, read our newsletter.

By clicking Sign Up, I acknowledge that I have read and agree to Penguin Random House's
Privacy Policy and Terms of Use.

Underlined