Tulang Baja Otot Besi

By @sutri43
Tulang Baja Otot Besi

Apa jadinya jika kamu terjebak didunia lain ?? takut ? senang ? atau santai aja ??... Ikuti imajinasi ku dalam hayalan nyata di ilusi dunia lain, ikuti langkahku, tentukan keputusan ku...suka dan duka menjalani hidup penuh magic, monster, dewa, setan, pahlawan maupun penjahat. Semua yang ada hanya angan angan jd kenyataan, semua mimpi berubah reality, demi satu kata 'TERKUAT'.

Chapter 2

Khuldi di Hutan Pelangi

Sejauh mata memandang ada berbagai macam tanaman. Pohon yang tinggi dan rindang, semak belukar, rumput, bunga dan buah buahan. Anehnya setiap tanaman memilik warna daun tersendiri. Salah satu dahan bahkan ada belasan warna apalagi satu pohon. Tidak hanya itu semak belukar juga, bahkan daun bunga dan kelopak bunga memiliki warna tersendiri dan tidak ada yang sama. Perbedaannya tampak dari kecerahannya, walaupun memiliki warna yang sama contohnya warna merah, ada merah muda, merah darah, merah gelap dll. Begitu juga dengan warna lain. Bahkan buah dan batang tanaman juga tidak ketinggalan, batang tanaman cukup unik, disekujur kulitnya ada garis warna dari akar sampai pucuk. Setiap batang tanaman baik batang pohon, semak maupun bunga ada ratusan garis warna. Seperti halnya hutan hujan tropis, kepadatan hutan ini cukup tinggi namun masih bisa dilewati walaupun tanpa senjata tajam. Ada beberapa celah seukuran badan normal yang bisa dilewati hanya dengan sedikit usaha. Tembusan sinar matahari diantara celah celah pohon rindang yang menjulang tinggi, aroma segar hutan yang tidak terjamah, buah buah bertebaran, wangi bunga serta penuh warna sepanjang mata memandang menambah kesan mistic yang semakin menjadi jadi. Sesekali bisa didengar suara gemerisik daun yang tertiup angin, namun tidak ada suara lain selain suara Leon bahkan serangga pun sepertinya mati ditelan bumi.

Woowwww… kalau bukan karena nyut nyut ini luka mungkin aq masih mikir ini mimpi..

Terlalu realistis untuk nyeri seperti ini..

Apa aq disurga ?? mana bidadarinya ?? (hal pertama yang dicari perempuan,otak mesum mang)

Masih berdiam diri di tepi sungai, otak Leon berkecamuk dengan banyak hal. Sambil berjongkok Leon memandangi air.

Airnya jernih tidak berwarna.. bahkan dasar tepian sungai nampak jelas ni..

Akar pohon menjulur ke dasar sungai kayak pohon bakau…

ehh bentar Lok, ini sungai k !?

Jauh uga sisi seberang ni… dah lah mata minus… hadehh ????????????

Tengok ke kiri sisi nyekung ke kiri, tengok ke kanan sisi nyekung ke kanan…

Ini kayak danau lah … ???

Memutar badan Leon melangkah kan kaki menuju pohon tempat dia terlempar. Dari sekian banyak pohon pada akhirnya hanya pohon ini yang membuat kening Leon mengkerut.

Kenapa kw beda sorang bro ?? kena campakan ke…

Tengoklah, bahkan disekitarmu tanah lapang dan hanya daun kering yang menemani..

Haizz…namun bagi ku kaulah satu satunya pohon normal disini…wkwkwkwwk

Selamat bro, mulai hari ni kau dan aq menjadi sahabat…wkwkwkw

Sambil memeluk pohon Leon meneteskan air mata (cengeng…). Bagaimana tidak, hanya pohon ini yang memiliki daun hijau utuh semuanya, bahkan batangnya coklat keabu abu’an tanpa garis warna yang aneh aneh, sangat mirip dengan pohon yang dia ketahui dan kenal sepanjang hidupnya. Leon memutuskan untuk duduk bersandar dipohon itu, dengan kaki kiri ditekukan bersamaan tangan kiri berebah di lutut kiri, tangan kanan berebah di paha kaki kanan yang diluruskan. Mencoba menikmati suasana dan pemandangan indah ini sebisa mungkin.

Aq ndak tau apa yang sebenarnya terjadi

Apakah hanya aq atau budak budak yang lain juga ada disini

Haa.. dirimu ada hanya untuk dirimu sendiri Leon

Disaat begini itu hp pake acara ilang agi, cehh… sue’lahh

Dahlah Mengeluh juga ndak ada bagusnya

Realita ataupun ilusi, pada akhirnya harus aku lewati

Mungkin suatu saat aku nemukan jawaban atas ini semua

Untuk saat ini aku harus cari tempat perlindungan

Mungkin aku bisa bikin semacam pondok sementara kayak di acara TV Survival tu

Bangkit berdiri Leon merapakan tangan ‘plop… sambil mejamkan mata

Bapa di Surga kedalam tangan-Mu kuserahkan hidup dan jiwa ku. Amin.

Hanya luka gores dan beberapa memar, masih bisa ditundah tidak ada yang serius !?

Pun juga aku ndak ada P3K, kalau tau begini aq bawa tadi… haizzz

Ok fix, bangun bivak harus jadi prioritas

Tidur ditempat terbuka ndak lucu bro

Apa yang menjadi pilihan ku sekarang ???

Pertama:

Lokasi dibawah pohon si bro ini !?? cukup strategis dengan kondisi lahan lapang hanya ada daun daun kering dan itu mudah untuk disingkirkan. Dekat dengan sumber air lagi, bisa dipakai minum langsung atau tidak nanti lah urusannya. Melangkah terlalu jauh tanpa tahu kondisi sekitar itu bunuh diri, ini bukan bumi lagi, sebelum tau aturan main disini lebih baik cari aman.

Kedua:

Rangka bivak bisa dari semak semak dan pohon kecil disini walau ndak ada parang. Aq hanya perlu 2 tiang utama sich, buat penyanggah atap dan tiang bentuk ‘V’ ujungnya untuk penyanggah utama.

Ketiga:

Aku ndak punya ponco hanya jas hujan jd atap harus dari alam. Masih ada sisa tali tambat sampan, untuk sementara bisa digunakan, cukup untuk satu bivak.

Ehhmm, kayaknya masih siang lah ini..

Apakah sama atau tidak kondisi waktu disini dengan bumi, kitak tunggu saja mpe malam..

Sebelum itu si bro (pohon hijau) ini harus dikasi nama..

Karna kau mirip pohon bumi dan ada buah hijau bulat besar disana, mulai saat ini namamu “SUKUN” hahahaha….

Melangkahkan kaki kearah semak semak, Leon mulai mencari 2 tiang utama bivaknya. Satu tiang bujur tanpa dahan untuk tiang penyanggah atap, yang kedua tiang yang memiliki ujung dahan bentuk V untuk menyanggah tiang atap tadi, paling tidak ukurannya harus selingkar pergelangan tangan biar kokoh. Bivak yang dirancang berbentuk segitiga dengan pantat bivak menghadap ke pohon, lebih kurang 2 meter panjang ujung belakang ke pintu bivak. Hal berikut yang perlu dicari adalah rangka atap, minimal 16 tiang kecil selebar 2 jari, 8 sisi kiri dan 8 sisi kanan. Atap dapat menggunakan semak semak maupun daun dengan dahan utuh, jika ditutup cukup rapat mampu menahan terpaan angin dan air hujan. Beberapa pasak kayu,Batu sedang dan tongkat yang dipergunakan sebagai palu. Seiring berlalunya waktu semua bahan sudah terkumpulkan.

3 langkah dari sukun Leon menamcapkan tiang kayu V, 

tacap dan goyang sedikit

berulang hingga lubang yang diinginkan cukup terbentuk. 

TOk TOk TOk… 

Keempat pangkal tiang dipasang pasak untuk memperkuat pondasi. Meletakan tiang utama atap di ujung cabang V, diterikan dengan tali untuk memperkuat. Selanjutnya meletakan rangka atap, 8 sisi kiri dan 8 sisi kanan. Gunakan semak dan dahan pohon berdaun untuk alas bivak dan atap. Bundel kan beberapa semak untuk pintu depan.

wolaahhh, instana ku idamanku wkwkwk…

cukuplah begini untuk beberapa hari..

Seiiring waktu nanti buat yang kokoh..

Melihat hari sudah mulai senja, Leon meletakan ransel dalam bivak dan melangkah ke tepian danau untuk membasuh badan dan luka disekujur tubuhnya. Menelan roti terakhir miliknya dengan beberapa teguk air, rasa lelah mulai menerpa. Leon memutuskan untuk tidur lebih awal hari ini.

malam hari..

Setitik cahaya seukuran buah kedondong terlihat muncul dari arah semak semak, mulai mendekati pohon sukun. Berputar beberapa kali mengitari pohon suku, titik cahaya berhenti di bivak. Terbang kiri dan kanan depan pintuk bivak seakan tertarik apa yang ada didalam. Melayang didalam bivak setitik cahaya seperti memperhatikan Leon yang tertidur.

???: *’%’@%”

???: *’%’@%”

Tersentuh cahaya membuat mata Leon terkedut sedikit, euhh…

???: *’%’@%”

Perlahan membuka mata, eeuhh… menggunakan telapak tangan untuk menghalangi cahaya

Leon: ….

* memiringkan kepala kekanan sambil memandang cahaya.

Leon: huh ???

??? : *’%’!@”!%”

*menggunakan jari telunjuk, Leon coba menyentuknya..Bzzz…

Leon : alamakk…

??? : *’%’*’…..

Leon : usah dekat dekat, sedang uga kesetrum ni…(mengambil ranting), whuss whuss… pergi Sono…

Titik cahaya menghindar ke kiri dan kanan. Baginya apa yang dilakukan Leon seperti slow motion, sangat mudah untuk di elak. Saking kesalnya Leon mencoba memukul membabi buta, toh ruangan sempit jadi pikirnya satu pasti kena dari seratus. Prakkk… ujung ranting Leon patah saat menghantam setitik cahaya itu, merasa kurang yakin Leon mengambil ranting lain dan memukulkannya lagi. Kali ini titik cahaya hanya diam, merasa malas untuk bergerak menunggu Leon memukul lagi. Seperti sebelumnya ranting Leon patah lagi, namun kali ini Leon melihat dengan jelas bahwa ada semacam pelindung bundar di sekitar cahaya. Terdiam sebentar Leon merasa linglung !? mengambil kesempatan dengan terdiamnya Leon setitik cahaya menyetrum jari Leon yang memegang ranting.

AWwwww… asem,

aaaaaa…. bruaakkk..

Leon lari menerobos bivak dari sisi belakang, terdapat beberapa luka gores akibat tindakannya itu. Mengambil langkah mundur Leon mulai berbalik arah untuk kabur, tanpa disangka setitik cahaya sudah berada didepan mukanya, mendadak kanget Leon melompat mundur 2 langkah.

Yang benar sikit…gumamnya. Mengambil selangkah mundur dengan pelan sambil memperhatikan cahaya itu, Leon mempercepat akselerasi nya untuk mundur dan berbalik, sekali lagi cahaya itu sudah didepan mukanya dan menyentuk jidatnya, bzzzz…. Leon pingsan.

Mata terbuka Leon tersentak dan bangkit berdiri sambil dalam posisi siaga.

??? : tenanglah, duduk saja dulu…

Tampak seorang pria dewasa berongos (memiliki kumis jenggot tebal dan lebat) dengan rambut merah dengan jubah seperti ponco menutupi semua tubuhnya kecuali kepala. Melirik kearah Leon sedikit kemudian kembali menatap ikan bakarnya. Lirikan itu membuat Leon merinding, tatapan matanya begitu tajam dengan bola mata mirip reptil berwarna kuning emas, serta ada sekilas tampak tanduk ditengah jidatnya berwarna hitam pekat. Sambil terus membolak balik ikan bakarnya, pria itu mempersilahkan Leon untuk duduk didekat api unggun ini dan memperbolehkannya mengambil satu tusuk ikan bakar dari 8. Dikasi ataupun tidak Leon tidak terlalu mempersalahkannya, yang menjadi masalah adalah pria didepannya ini. Sambil mencoba duduk otak Leon berputar.

Pertama : tatapannya garang dengan muka sangar berongos bertanduk lagi. Tapi aq tidak merasa apapun yang aneh kecuali tatapannya, itu yang mencurigakan. Tidak seperti di novel novel kalau karater utama pasti merasa ada aura sesuatu gimana gitu.

Kedua : Apapun mahluk itu, kalau dia makan ikan otomatis dia bukan herbivora, dengan cahaya saja aq bonyok apalagi dia yang bahkan cahaya berputar disekitarnya dengan tenang. Apa aku bagian dari menu dia k ??

Ketiga : dia pasti bukan manusia tapi bisa mengerti dan fasis bahasa bumi, bahkan bahasa indonesia bukan inggris. jangan katakan punya kekuatan untuk baca pikiran gimana gitu seperti telepati lalu bisa berbicara dengan aku !?? Aku terlalu tua untuk percaya hal hal begitu walau lingkungan sini sudah sangat aneh menurutku.

Masih berseteru dengan lamunannya tangan Leon tampak sigap mengambil ikan bakar, gigitan pertama bahkan membuat keningnya berkerut. Daging ikan ini begitu kenyal seperti daging sapi setengah matang, walaupun begitu rasa manis dan segar masih mengimbangi kenyalnya daging.

??? : jangan terlalu banyak pikiran, bagaimanapun juga yang orang asing adalah kamu bukan kami.

Leon : kami ??

??? : aku dan cahaya ini. Jadi kamu siapa ??

Leon : … Aku Leon dari bumi.

??? : Hahahahaha… itu adalah mahluk bumi, yang ingin aku tahu ‘KAMU SIAPA” ??

Leon : (terdiam sejenak..sambil merenung )… aku.. aku.. aku bukan siapa siapa, aku hanya orang tersesat ditempat yang tidak seharusnya.. aku.. aku.. aku adalah 43.

Digame manapun Leon main dia selalu menggunakan 43 sebagai simbol nama karakternya, mengingat dia berada di dunia antah berantah Leon memutuskan untuk memakai identitas baru.

??? : Bagus, wkwkwkwkwk…

??? : Caesar.. itu namaku, kata pria dewasa itu.

Caesar : kamu beruntung bisa terbawa kesisi ini, jika saja kamu berada sisi seberang !? hahahaha… ucapkan selamat tinggal dengan hidupmu yang menyedihkan. Yang satu ini (menunjuk ke arah cahaya) bernama Yuna.

Yuna : !(”!’!@”!’!#” !!’%’!$”!’!@”

43 : hello (dari tadi apa juga di omongkannya)

Caesar: Kamu tidak akan bisa mengerti apa yang dikatakannya, ataupun mahkluk lain yang ada. Semua hal yang ada disini masih tidak bisa diterima oleh pikiranmu. Mindset yang terbentuk adalah bahwa semua ini tidak nyata begitu juga tubuhmu. Kamu tau kenapa orang sering berlatih dengan pedang lalu bisa menjadi master / ahli pedang ?? 43 terdiam sejenak berfikir. 

Caesar : Awal memulai, otak dan tubuhmu tidak mengenal olah gerak bermain pedang ini, otomatis dianggap asing dan bukan bagian dari dirimu. Seiring waktu berjalan dengan terus berlatih akhirnya olah gerak bermain pedang ini menjadi bagian sehari hari dari dirimu, akibatnya setiap gerak dan refleks menjadi lebih natural. Gerak natural inilah yang membentuk skill pedangmu. Begitu juga dunia ini, selama otak dan tubuhmu belum menerimanya menjadi bagian dari dirimu, kamu tidak akan bisa mengerti apapun dan merasakan apapun. Sebenarnya apapun yang ada disekitar mu memiliki energi tertentu yang menjadi bagian dari dunia ini, bahkan dalam daging ikan ini. Ada sisa serpihan energi, begitu juga dalam air, udara, buah dll. Mindset menganggap hal ini tidak nyatalah yang menjadi benteng pengekang akan tubuhmu untuk bisa mengenal, melihat maupun merasakan energi ini. Secara tidak langsung, Yuna yang merupakan spirit hutan ini tidak dapat kamu kenali, beruntung kamu bisa melihatnya dalam bentuk cahaya.

43 : lalu aku harus bagaimana ??

Caesar : ingat pohon dengan buah hijau besar ??

43 : Sukun ??

Caesar : Pohon kehidupan, Alfa dan Omega, Awal dan Akhir, KHULDI. Keberadaannya sudah sejak dunia ini tercipta dan akan berakhir sampai dunia ini musnah. Dengan Memakan buahnya, akan membantumu memahami arti dari dunia ini.

Yuna : !)”!’!$”&’!’!$” !@”!’!!”@!”!!”!’!$” (‘@)”@!” !!!!

43 : ohhh !?? ok ok, besok aku akan mencobanya…

Caesar : hahhaha.. nikmati saja hangat api unggun untuk malam ini..

Tidak butuh waktu lama untuk 43 menghilang ke dunia mimpi, bagaimana tidak..perut kenyang, posisi nyaman ya udah tidur kayak ular dah tu.

Yuna : !!’!’!#”@!” @%’!’!!”(‘!$” ???

Caesar : !(”%’!#”!%”&’!’ !(”!’!)”!’

Menatap langit langit atap bivaknya 43 termenung. Bentar ilang bentar datang, haiizzz…

Pagi itu 43 terbangun dan berada dalam bivaknya di bawah pohon sukun. Daripada memusingkan diri bagaimana bisa dia kembali ke bivak, 43 malah melangkah kan kaki ke tepi danau mencuci muka. Merentangkan tangan dan kaki, sedikit olahraga lebih kurang 15 menit. Merasa badan sudah mulai hangat dan berkeringat 43 mulai melepas baju dan celana meninggalkan celana futsal dan celana dalam dibadan. Mencari 3 tiang dahan, membentuknya menjadi jemuran. Mengingat semua kejadian sejak kemaren pakaian sudah selayaknya dicuci.

Brrr… ndak di bumi atau disini, kalau dah pagi dinginnya minta ampun… brrr…

Ndak mau aq makan udang mentah kalau ndak terpaksa, selama udang tu di air dan hidup masih amanlah.. Orang pikir gampang k bikin api pake batu diketak ketok, pake kayu di puter puter, beuhh…di film aok 3-5 detik jadi, real life amatir itu bisa seharian bro…

Sambil keliling sekitar sukun dan mengamati area lingkungannya 43 terus mengoceh sana sini.

Buah buahan ini ??? bisa dimakan kan ??? masih hiduplah aku… banyak ooo…

Tapi ?? saran Caesar aku harus makan buah Khuldi itu.. ada benarnya juga, perlu perantara untuk bisa membiasakan diri dengan dunia ini.

Memandangi dari akar sampai ujung pohon.

43 : tinggi lalu, cam mana mau manjat. Lebar saja mau 3 orang berpelukan baru ketemu, dahan paling bawah ada 5 meter jaraknya…haiss..

Tanpa peralatan yang memadai 43 memutuskan menyerah dari memanjat, jika lebar pohon seperti pohon pinang atau kelapa masih sangat mungkin untuk di panjat walaupun ada beberapa resiko. Penjolok ?? dengan tidak adanya parang atau sejenis itu bahkan lebih sulit lagi, 10 meter bukan jarak yang dekat. Pilihan yang tersisa hanya dengan melemparnya menggunakan kayu, tentu saja resiko buah bisa rusak, namun selama masih bisa bermanfaat walau tidak utuh tidak akan menjadi masalah. Mondar mandir, keluar masuk semak, coba mematahkan dahan (gagal terlalu keras, lol ), yang dibutuhkan hanya dahan, tiang, ranting, kayu dll yang sepanjang 15-20 cm dengan lebar paling tidak pergelangan tangan. 

43 : haa.. oh my baby my love my simeleketehe , muach muach (sisa kayu mati, lol )

Pasang posisi, mengambil ancang ancang, sedikit membidik..tangan kanan lurus kedepan dengan jari telunjuk ke arah buah didahan yang terdekat, tangan kiri mutar mutar kayu lalu ditarik kebelakang… whusss… Kena ?? Ya meleset lah, kalau kena dipercobaan pertama itu dewa namanya. Cemplungg… kayu jatuh ke danau.

43 : ….

43 : ….

43 : …. bodo bale (geleng geleng kepala, lol )..

5 menit later…

Mengambil posisi yang berlawanan dengan yang pertama, whusss… (meleset), berlari mengejar kayu yang melayang jatuh, kembali lagi, whusss (meleset lagi) kejar lagi kayu jatuh. Tidak ada beda dengan guk guk saat ini, lol. Berulang sampai lemparan ke 23, plakk. Kayu terkena ke buah namun hanya bergoyang sedikit. 

43 : keras lalu !? harus lebih kuat.

Whusss… (meleset) dan jatuhnya semakin jauh, sekitar 2x dari yang pertama (yarabana) kejarrr lagii. Begitu terus tanpa mengenal lelah 43 berusaha, jika ada pilihan lain mungkin sudah saatnya menyerah dari melempar. Sempat terkena 4-5 kali dipangkal tangkai buah dari 40 lemparan. Lemparan ke 63 membuahkan hasil, buah jatuh ke tanah.

43 : mancing mania !?? MANTAPPzzzzz…

Mendekati buah dengan santai 43 memungutnya, ada bekas retakan dan penyok dibadan buah serta goresan sana sini. Mengusap usap dengan telapak tangan untuk membersihkannya dari tanah dan daun. Ukurannya sebesar buah melon normal, dengan kulit yang keras bahkan mirip melon, hanya saja warnanya hijau seperti sukun dan motif kulit buah jika diperhatikan ada line hijau pekat sedikit seperti spiral berjumlah 2 spiral di permukaan kulit buah. Menghentakan buah ke akar pohon Khuldi dari bagian retakan, prakk… buah terbelah 2. Dalamnya kosong ditengah mirip melon, daging buah warna emas pudar dan tidak ada bijinya. Mengendus sedikit 43 tidak merasakan adanya bau bau tertentu, menjilat sedikit ada perasaan mengelitik sedikit di lidah.

43 : ehhmm… tidak ada yang aneh (gumamnya)

Mencongkel sedikit daging buah dan menelannya.

Comments On This Chapter

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Comment 0 Comments

Similar Stories

Similar Titles