Teruntuk Semestaku, Zidane.

By @Rapunzell_

Teruntuk Semestaku, Zidane.

By @Rapunzell_

Dia hanya datang kurang dari satu musim. Tapi kenapa aku merasa benar-benar kehilangan segalanya? Ini kisah yang aku tulis khusus untuknya, hanya untuknya. Karena di dalamnya, aku hanya menuliskan dia, dia, dan selalu dia. Karena dia adalah jantung puisi yang menggema narasi di setiap bait dan hembus nafasku..

Chapter 1

Bentuk Cinta itu?

Bulan Juli adalah saksi bisu dimana aku dan kamu mengikat janji,

dimana aku dan kamu saling mengingkari,

dimana aku dan kamu mengawali,

serta dimana aku dan mamu saling mengakhiri.

──────────────

Seorang pria bermata indah tengah menatap sorot mata gadis yang juga saat ini membalas tatapan sayu nya.

Keduanya duduk disebuah bangku putih rumah sakit menghadap ke hamparan cakrawala lepas yang menggantung luas.

“Dane, apa kamu tahu bentuk cinta itu seperti apa?”

Si gadis menyandarkan kepalanya pada pundak pria di sampingnya, Zidane.

“Cinta itu abstrak, hanya bisa difahami dan dimengerti oleh orang-orang yang mengenal bentuknya. Dan bentuk cinta yang paling sempurna menurutku adalah kamu, Key.”

Zidane menoleh ke arah Key. Hatinya selalu merasakan ketenangan setiap kali gadis itu berada disampingnya.

Cinta, satu kata yang memiliki berjuta makna.

Satu kata yang berarti pada berjuta frasa.

Satu kata yang jika dijabarkan secara detail, tak akan mampu ditampung dalam ratusan lembar kertas.

Cinta, akan terasa manis bagi siapapun yang tengah terjatuh ke dalam lubang magnetic romantisme.

Dan cinta, akan terasa sangat pahit bagi siapapun yang sudah habis kata dan upaya untuk mempertahankan dua kutub yang sudah tak lagi saling tarik-menarik.

Itulah proses yang selalu berputar, lingkar kenyataan yang pahit dan menyakitkan. 

Namun orang-orang kadang menyampingkan konsekuensi akhirnya, dimana hati menjadi taruhan akan luka yang segera tercipta ketika perpisahan berada di pelupuk mata.

“Kamu harus tahu, Dane. Perasaanku padamu, seperti kilauan cahaya Venus dipenghujung fajar.”

Key meraih jemari Zidane, menggenggamnya erat.

Sedangkan Zidane hanya diam, Ia terlalu malas untuk sekedar meng-iyakan ucapan Key.

“Bahkan, ketika aku tak ada lagi disampingmu. Perasaanku tetap tertinggal di cakrawala, bersama Bintang Venus, bersama hembus angin yang selalu membuai lembut helai rambutmu.”

Mendengar penuturan Key, Zidane refleks mendekap tubuh mungil gadis itu.

“Berjanjilah untuk selalu ada disampingku sampai aku terpejam. Aku benar-benar tak akan sanggup untuk bertahan jika kamu menghilang dari pandanganku!”

Pria itu mengangguk, dan sukses membuat Key tersenyum kecil.

“Aku tidak bisa berjanji Key, tapi aku akan membuktikan dan berusaha untuk selalu ada disampingmu apapun yang terjadi.”

Zidane adalah hidupnya, dunianya, semesta yang selalu dijadikan tempat ternyaman untuk pulang.

Zidane adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya, menata hidupnya, dan memberikan warna yang begitu indah di balik kegelapan yang menyelimutinya.

Setelah percakapan kala itu, tak ada lagi percakapan selanjutnya diantara Zidane dan Key.

Hanya tersisa tangisan penuh luka, duka dan seluruh air mata menetes diatas sebuah foto dua manusia yang tengah berhadapan, bertatap mata dengan senyuman manis yang terpancar pada bibir keduanya.

Zidane memejamkan kedua matanya.

Ia tak kuasa menahan jeritan hatinya yang meronta.

Pria itu menggenggam sebuah liontin hati dengan ukiran nama `last and never die` , kalung yang selalu Key pakai setiap waktu.

Ia tak tahu apa yang terjadi, namun sesosok wanita yang selalu ada disampingnya perlahan lenyap, melebur bagaikan ilusi yang telah sampai pada puncak realistis.

Semuanya tak nyata, Key dan Zidane hanyalah delusi yang mengisi kekosongan hati.

Saat salah satunya ingin menepi, melepas dan pergi. Maka pihak satunya akan lenyap beriring dengan seberapa besar persentase halusinasi yang tercipta.

Dan saat ini adalah waktunya, waktu untuk melepas ikatan keduanya demi sebuah senyum kebahagiaan yang lebih nyata.

Sepucuk surat tengah Ia genggam, matanya terpejam setelah membaca isi dari surat yang Key tulis khusus untuk Zidane diakhir nafas hidupnya.

“Jangan lagi meninggalkan, itu sakit bagi yang ditinggalkan, aku sudah tak sanggup merasakan pedihnya hati setiap kali melihatmu melangkah jauh dari hadapanku. Saat ini, biar aku yang pergi, sekarang kamu terbebas sayang. Aku tahu semuanya sangat sulit, tapi aku tahu kamu bisa melewati hari tanpa lagi ada emosi karena sikapku. Biarkan semuanya mengalir, karena aku yakin apapun yang terjadi adalah yang terbaik, meskipun kita sama-sama pernah merasa hancur berkeping-keping. Dan biarkan aku menjadikanmu orang terakhir yang menutup waktuku disini. Karena kamu adalah kejutan terindah yang diberikan Tuhan untukku. Maka, berbahagialah..

Selamat tinggal, bait rinduku.

Selamat tinggal, kesayanganku.

Selamat tinggal, semestaku.

-Key.”

───────────────────────

Jadi, apakah cinta adalah sebuah kata? Bukan.

Cinta adalah sebuah perjuangan, merelakan dan melepaskan demi sebuah kebahagiaan.

Yaa, kurang lebih begitu..

Dan tangisan yang mengiringi perpisahan, akan selalu terasa manis jika keduanya berlapang dada untuk saling melepas.

Terima kasih, telah mengajarkan aku apa arti dari mencintai penuh ketulusan.

Terima kasih, telah memberiku berjuta warna yang melenyapkan senduku.

Terima kasih, telah menunjukan dunia yang luas kepada sesosok manusia yang tidak memiliki empati sepertiku.

Terima kasih, dan aku rasa ini adalah sepenggal kisah yang sama sekali tidak ada artinya.

Selamat berdialog dengan hati.

Akan seperti apa nanti, biarlah Tuhan yang menguji, kita tak bisa merevisi kenyataan yang sudah menjadi satu hal pasti.

───────────────────────

Ini saya. Tolong ingat saya sebagai seseorang yang pernah membuatmu bahagia meski hanya beberapa detik saja. Terima kasih..

Ps; bukan Key yang lenyap, tapi hati nya.

Comments On This Chapter

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Comment 0 Comments

Similar Stories

Similar Titles