Silent Heart

By @YukiFukuro

Chapter 1

Masa kecil

   Kasih sayang orang tua yang selalu hadir memberikan kenyamanan, dan tawa canda selalu menghiasi hati. Pikiran dan hati yang polos hanya merasakan indahnya dunia, senangnya bermain dengan orang tua dan teman-teman. Saat sakit orang tua selalu ada menjadi pelipur hati, terpenuhi semua keinginan, saat salah orang tua selalu menasehati.

   Tapi, mengapa aku berbeda? Kemana hati dan pikiran polosku? Hatiku selalu dan selalu….. Menjerit, menangis, marah terhadap hidupku. Melihat mereka bermain bersama orang tua mereka membuat hatiku terasa sesak, hatiku menangis iri melihatnya. Tapi apalah dayaku, suara hatiku yang terus bergejolak memaksaku tuk membuat topeng senyum palsu yang menutupi kesedihanku. Ntah sudah seberapa tebal topeng itu kugunakan.

   Saat malam tiba, selalu kutenggelamkan diri dalam suara hatiku. Mendengarkan suara yang selalu bersamaku yang selalu mengerti diriku.

Suara Hati : Bagaimana harimu? Aku harap menyenangkan. Hei, lihatlah bulan sangat indah malam ini 

Aku : Hariku baik, sama seperti biasanya. Tidak ada bedanya. Oh kau benar, bulan sangat indah malam ini.

  Suara Hati : Kau masih belum berubah ya, berapa lama kau akan terkurung dalam kesedihanmu, ingatlah apa yang ada pasti akan menghilang, keluarlah dari kesedihanmu, lepaskan topeng palsumu itu. Berbahagialah seperti anak-anak lainnya. Kau masih kecil untuk memikirkan hal itu.

  Aku : Aku tau itu, aku tau….(suaraku mulai bergetar) Aku selalu ingin seperti mereka, selalu tertawa tulus tanpa topeng sepertiku, tapi aku…. Aku selalu merasa iri melihat mereka, kenapa aku tak bisa seperti mereka? (Terisak diriku tak dapat menahan tangisanku sendiri)

  Suara Hati : Itu lah yang harus bisa kau lewati, mungkin kau tak seperti mereka. Tapi kau lebih kuat dari mereka, cobaanmu yang kan membuatmu kuat, yang kan membuatmu lebih tegar menghadapi rintangan di depan nantinya. Kenapa kau hanya terpaku dengan kesedihanmu? 

  Aku : Hentikan ocehanmu, aku mulai muak dengan semua omonganmu. (Jeritku dalam diri)

  Suara Hatiku : Baiklah, mungkin kau sudah lelah hari ini. Tidurlah,

   Esoknya aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. hari itu aku bertemu dengan seorang anak yang sedang asik merangkai bunga, aku mendekatinya dan menyapanya.

“Hai, rangkaian bungamu bagus sekali, mau kau berikan ke siapa? ” tanyaku. “Oh,,, ini akan kuberikan kepada orang tuaku, bagaimana kalau kau menemaniku memberiku bunga ini?” jawabnya. “Tentu saja, mereka pasti senang kalau aku membawa teman baruku” raut wajah senang yang tulus terpancar dari wajahnya. “Baiklah kalau begitu, ayo kita menemui orang tuamu”.

   Sepanjang jalan, tak ada rasa aneh sedikitpun aku kepadanya. Tapi, aku mulai merasa aneh saat dia masuk kepemakaman. Dalam hatiku berfikir, kenapa dia ke pemakaman? Bukankah dia ingin bertemu orang tuanya?. Lalu kami berdiri di depan dua makam yang saling berjajar dan ia memberikan rangkaian bunga itu kepada kedua makam.

   Saat pergi dari makam, baru kuberanikan diri tuk bertanya kepadanya. Lalu dia menceritakan kalau itu adalah makam orang tuanya, ia juga menceritakan kehidupannya. Setelah mendengar ceritanya akupun sadar kesalahan yang selama ini kubuat. Malam hari ku mulai berbicara dengan suara hatiku lagi

    Suara Hati : Kulihat kau sangat senang, ingin menceritakannya padaku? 

    Aku : Ya, aku sedang senang sekarang, akhirnya aku sadar kesalahan yang kuperbuat selama ini. Ini semua berkat dia, karena dia aku bisa paham kesalahanku.

    Suara Hati : Akhirnya kau bisa bebas dari kesedihanmu. Jadi, apa kau akan melepas topengmu itu? 

    Aku : Tentu saja, aku akan mencoba seperti anak-anak yang lainnya. Aku akan tertawa lepas tapi aku juga akan ingat apa yang telah terjadi untuk membuatku lebih kuat

    Suara Hati : Syukurlah, terus ukir kenanganmu, bicaralah padaku apa saja yang kau rasakan. Aku akan selalu ada untukmu, mendengar semua kisahmu.

   Malam itu aku tertidur sangat pulas dan tenang. Pagi hari, kumendengar suara lembut yang lama sudah tak kuhiraukan, suara yang menenangkan hatiku, suara yang selalu membuatku jauh lebih kuat lagi. Ya,,, itu suara ibuku, suara malaikat duniaku yang Tuhan berikan kepadaku. Saat terbangun kupeluk ibuku. Ku meminta maaf kepada ibuku, karena aku yang tak bisa lepas dari kesedihanku, yang tak sadar akan perjuangan ibuku selama ini yang selalu ada untukku dan selalu menyemangatiku. Dalam hati ku berjanji akan menjadi orang yang bisa membanggakan ibuku, dan berusaha sebaik mungkin demi ibuku. Lalu kupinta pada ibuku untuk mengunjungi ayahku. Ibuku memelukku erat, karena mendengarnya hingga meneteskan air mata kebahagiaan. Melihat ibuku seperti itu, aku semakin semangat untuk membahagiakan ibuku. 

Aku dan ibuku bersiap-siap untuk mengunjungi ayahku, aku berpaikan dengan baju terbaikku. Setelah bersiap-siap kami berangkat menemui ayahku. Sesampainya ditempat ayahku, aku menyampaikan semua perasaanku pada ayahku.

“Ayah, aku sangat merindukan ayah, bagaimana kabar ayah di surga? Apa ayah bahagia disana? Ayah, maaf aku baru menjenguk ayah setelah sekian lama. Ayah, selama ini aku tidak bisa lepas dari kesedihanku setelah ayah pergi, tapi hari ini aku sadar, aku tidak boleh terus bersedih, aku tidak ingin ayah juga sedih melihatku. Ayah, aku berjanji akan menjadi anak yang kuat, anak yang berbakti ke ayah dan ibu, aku akan selalu menjaga ibu. Ayah, doakan aku ya yah, supaya aku bisa bahagiakan ibu seperti ayah membahagiakan kami dulu. Ayah istirahat yang tenang disisi-Nya, mulai sekarang aku aku selalu menjenguk ayah”

   ======SELESAI=====

Comments On This Chapter

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Comment 0 Comments

Similar Stories

Similar Titles