My Goal

By @hanahinatalovers
My Goal

Teriakan anak-anak membuatku iri ingin keluar. Namun, kini aku terduduk di kursi roda dengan tangan dan kaki yang lumpuh, serta jantung ku yang berdetak kencang dari biasanya. Apakah yang ku alami? Aku ingin seperti dulu?

Chapter 1

Prolog

wajah cantik ku berubah menjadi pucat dan sedikit keriput. Aku menyesal tidak bisa berjalan dan berlari seperti dulu. Aku iri dengan teman kerjaku bernama Patricia. Wajahnya cantik Patricia masih terbayang di depan mataku ketika menjenguk ku di rumah sakit. Aku menangis dengan tubuh yang kaku. Tetapi begitu aku tersenyum, Patricia ikut menangis karena dia menganggap ku sahabatnya.

“Na, kamu kenapa tidak cerita tentang penyakitmu?” tanya Patricia.

Suaraku yang lemah berusaha menjawab pertanyaan Patricia. “Patricia, maafkan aku tidak berterus terang kepadamu. Aku waktu diperiksa dalam keadaan koma.”

Aku menyesal telah membuat Patricia menangis di rumah sakit.

Sekarang Aku hanya terbaring di kasur yang besar, kamar yang luas berisikan meja, kursi roda, lemari, dan canvas untuk terapi ku. Suara helikopter terdengar di ruang kamar ku, apakah karena hujan jadi memakai helikopter? Ataukah karena macet jalannya?

“Leona, ayo kita kemas-kemas?” Suara itu terdengar jelas di kuping ku, suara kekasihku. Aku tidak tahu sejak kapan dia sudah berkemas, karena aku tidak bisa menggerakkan bola mataku seperti dulu lagi, mungkinkah satu jam dia sudah ke kamar ku jadi aku tidak mengetahui kapan dia bergegas ke kamar ku? Apakah dia lewat jendela kamar ku?

“Maafkan aku merepotkan mu.”

“Kamu tidak merepotkan ku … sudahlah kita harus bergegas.”

 Komunikasi ku dengan pacar ku berjalan dengan lancar. Alat dari Dokter Albert membuatku bisa berbicara, dia memberi ku saat aku terapi di rumah sakit. Dokter Albert adalah paman ku dari ayah dia bertanggung jawab merawat ku selama aku sakit. Aku meneteskan air mata, karena telah merepotkan banyak orang.

Huft‼Huft‼

Aku tidak tahu berapa lama lagi akan bertahan. Aku di bawa melalui pintu kamar untuk mempermudah mendorong kasur dorong atau mengangkat tandu. Perawat dan dokter membawa ku menuju pintu belakang yang dekat dengan kamar ku. Perlahan aku mengatur nafas yang sesak, aku berharap tidak mati karena aku harus kerja demi ibuku. Penyakit ku –aku tidak boleh berprasangka buruk pada Tuhan, mungkin ini ujian ku, dan teguran karena aku tidak bisa menjaga kesehatan ku. Aku mendengar suara perawat dan pacar ku.

“Sus, tolong selamatkan pacar ku.”

“Kami akan menyelamatkan sebisanya, apakah tuan mau ikut?”

“tidak, terima kasih. Aku jaga rumah, karena ibunya belum pulang.”

Namun, entah kenapa, aku seperti anak kecil emosi ku labil, aku berubah dari wanita karier menjadi wanita cacat yang hanya duduk di kursi roda, baring, makan menggunakan selang, dan nafas menggunakan selang. Bila aku ke WC, aku menggunakan kursi roda elektrik dan berpegangan di besi untuk mandi dan buang air. Dan, ibuku selalu menangis ketika aku pergi ke WC. Mungkinkah dia pikir aku akan mati?

“Nona, kita sudah sampai di rumah sakit?”

Oh Tuhan, bahkan aku tidak tau kalau sudah sampai. Apakah aku di helikopter sempat koma? Apakah aku masih koma sekarang jadi hanya mendengar suara saja? Perawat dan suster berkata nyaring di telingaku, Apakah kondisi ku memburuk? Ibu, anakmu sedang bahaya. Kenapa kamu tega meninggalkanku?.

Seorang perawat mengatakan aku menderita penyakit langka karena keturunan Mendiang Ayahku.

“Dokter, dia mengalami gagal jantung karena faktor keturunan dari penyakit jantung dan Guillian-Barre syndrome.”

“Aku salut sama gadis cantik ini, dia bertahan hidup tidak seperti Ayahnya.”

Dokter berkata padaku dengan sopan, bahwa dia akan membuka bajuku untuk memasang ECG yang merekam jantung ku.

“Aku minta izin ya, nona cantik.”

Andai, aku bisa berjalan. Aku pasti bisa ke kuburan Ayah. Namun, kini aku seperti Ayah. Maafkan anakmu yang cacat. Maafkan aku, Melio. Pikir Aku yang sedih dan lumpuh.

Aku mencoba membuka mataku yang juling. Sekarang aku harus lolos dari koma yang menjengkelkan ini. Aku melihat sekejap dokter mengolesi anti septik di tanganku, namun mataku kembali kabur.

“Tekanan darahnya tinggi dan pernapasan nya buruk sekali.”

“Dia mengalami paru-paru basah karena gagal jantung dan penyakit langka nya itu.”

Bau obat, aku tidak suka bau ini. Setelah berusaha membuka mata yang lemah, aku melihat bahwa sudah di ruang Intensive Care Unit. Bunyi Electro Cardio Gram membuatku semakin lemah, karena bunyi itu tak karuan menandakan jantung ku cacat. Lalu aku membuka mulutku untuk berbicara.

“Dokter, aku kenapa tidak bisa berbicara?”

Dokter menggosok kan kain ke pipi untuk mengeringkan air mataku yang di pipi dan berkata.

“Nona, kemungkinan karena saraf atau otot mu mengalami kerusakan. Besok kita akan periksa kamu dengan sumsum tulang belakangmu dan saraf mu.”

Kedua tanganku yang lemah ini ku gerakan lagi. Hanya untuk mencoba melambai, namun terasa berat. Aku teringat ketika di rumah saat ke kantor, kakiku terasa berat dan aku tersandung. Lalu ibuku mengantar ku sampai ke kantor, kami berdua menggunakan taksi. Ibu menangis ke padaku dan memeluk erat.

“Leona, kamu harus jaga kesehatan mu ya. Apakah kakimu tidak apa-apa?”

“Cuma keram, ini mungkin aku kurang olah raga hanya duduk di kantor dan di rumah,” Aku tersenyum kepada ibu waktu itu, betapa sakitnya dadaku ketika tersenyum menutupi hal aneh yang terjadi kepadaku.

“Leona, kamu harus kuat ya.”

Lamunan ku buyar, karena pacar ku tiba-tiba ada di samping ku. Aku juga mendengar suara orang ramai, ya aku ternyata dirawat di ruang penderita saraf dan otot yang sangat parah. Orang-orang berisik sekali, namun suara itu membuatku senang karena sepi, dan gelisah kini tidak menemani ku tidur.

Comments On This Chapter

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Comment 0 Comments

Similar Stories

Similar Titles