Just For You

By @nsnadia2573
Just For You

"Maaf saya hanya menganggapmu sebagai seorang teman. Tidak lebih". Beberapa patah kata yang dia keluarkan dapat menghancurkan semua kenangan indah yang aku ciptakan bersamanya. Berakhir sudah semua pengharapanku. Sejak saat itu hubungan kita tidak sedekat dulu. Namaku Qanita Syifa. Aku sedang menjalani tahun ketiga di bangku sekolah menengah atas. Surya Cahya, teman dekatku sejak MOS. Aku memiliki perasaan lebih dari sekedar teman kepadanya. Inilah kisahku dengannya.

Chapter 1

Ketika Cinta Tidak Harus Memiliki

Aku melirik arlojiku. Pukul dua puluh satu lewat tiga puluh lima menit. Artinya sudah tiga puluh lima menit aku habiskan di rooftop apartemenku. Lampu-lampu yang gemerlap di setiap sudut kota yang menghiasi langit malam ini. Berbeda dengan malam sebelumnya yang menyajikan cahaya rembulan. Sunyi. Aku rasakan. Seperti keadaan hatiku saat ini. Hanya hembusan angin malam yang menerpaku. Dingin yang aku rasakan, membuat sesak dadaku. Kembali teringat sosok yang selalu menyodorkan jaket miliknya untuk menghangatkanku saat merasa kedinginan. Tidak. Itu hanyalah masa lalu. Aku tidak boleh mengingat masa itu lagi. Lagi pula tidak akan ada gunanya. Hanya menyesakkan dada saja. 

Suhu udara di luar semakin dingin. Segera aku kembali ke kamarku untuk menghangatkan tubuh.

“Line!”, dering notifikasi dari handphoneku yang menghentikan laju langkah kakiku.

Mataku membulat ketika melihat nama pengirim pesan tersebut. Surya. Sosok yang selama seminggu terakhir ini menghantui pikiranku. Dengan perasaan ragu aku membaca pesan darinya. 

Syif, sudah tidur belum?

Saya lagi ada waktu senggang nih, ketemuan yuk di kafe biasa.

Hah? Apa dia sudah gila, setelah dia mengatakan tentang status hubungan kita dan dengan seenaknya dia mengajak aku untuk bertemu? Bagaimana aku bisa bertemu dengannya jika keadaan hatiku saja seperti ini? Sangat menyakitkan. Tetapi, apa boleh buat. Surya tetaplah temanku. Aku tidak enak hati untuk menolak ajakannya. Dengan cepat aku ketikkan balasan untuknya.

Ya

Aku membalasnya dengan terpaksa. Semua masalah ini berawal sejak seminggu yang lalu di kafe dekat sekolah. Ketika dia menjelaskan tentang hubungan yang ada diantara kita hanyalah sebuah hubungan pertemanan. Beribu pisau menghujam hatiku saat itu. Tanpa disadari air mataku sudah memenuhi kelopak mataku dan terjatuh. Sakit. Itu yang kurasakan. Harapan yang sudah aku bangun sejak aku bertemu dengannya hancur seketika hanya dengan sepatah kata darinya. Memang semua ini salahku karena tidak seharusnya aku memiliki perasaan lebih dari seorang teman untuknya. Tetapi, tidaklah seseorang berharap jika seseorang yang lain tidak memberikan harapan.

Aku segera menuju kamarku untuk mengganti pakaian dan mengambil kunci kendaraan. Aku lajukan kendaraan bermotorku menuju kafe. Sesampainya, dengan gugup aku memasuki kafe. Aku mengedarkan pandanganku ke berbagai sudut kafe untuk mencari sosoknya hingga aku mendapatinya. Sosok berbadan tegap, kulit yang berwarna sawo matang, dan dengan rambut kaku hitamnya. Segera aku menuju kearahnya dengan penuh rasa ragu. Meja yang ditempatinya berada di salah satu sudut kafe yang menjadi tempat favoritku dengannya dulu. Udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan itu menambah rasa gugupku. Ingin rasanya aku melarikan diri dari tempat ini. Tetapi percuma saja, dia sudah melihatku dengan senyum manis yang ditampakkan oleh bibirnya. Tanpa pilihan lain, aku harus menghampirinya.

“Akhirnya datang juga”, katanya dengan wajah yang berseri-seri. Aku hanya diam dan menempati tempat dudukku yang berada dihadapannya. Kita saling berhadapan 

“Itu aku sudah memesankan kamu cokelat panas favoritmu”, kata Surya sambil menelunjukkan jarinya ke arah cup yang tertutup rapat. Cokelat panas, minuman favoritku dengannya. Kita memiliki selera minuman yang sama. Bahkan tidak hanya minuman, selera musik kita pun sama. Kita pernah menyanyikan lagu yang berjudul Just For You yang diciptakan dari band Indonesia bernama The Coffee Break dengan diiringi gitar yang dimainkan olehnya. Sungguh indah. Tetapi itu hanya masa lalu yang tidak akan pernah bisa terulang kembali. 

Aku melirik jam yang terletak tepat di dinding sisi atas meja kasir. Sudah setengah jam kita hanya saling berdiam tanpa ada obrolan, mungkin canggung karena kejadian waktu itu. 

Alunan musik jazz dibawakan oleh band yang berada di panggung kafe itu menciptakan suasana yang tenang. Aroma cokelat panas yang mengambang di udara sebab aku membuka tutup cupnya. Suhu di kafe semakin dingin, aku jadi terus-menerus menyesap cokelat panasku. Lumayan bisa menghangatkan badan. Tetapi tanganku masih terasa dingin. Segera aku gosokkan kedua telapak tanganku dengan berharap ada kehangatan. 

“Kamu kenapa? Kedinginan?”, tanya Surya yang memecah suasana. Aku hanya membalasnya dengan sebuah anggukan. Dengan segera dia berdiri dan mendekat kearahku sambil melepas jaket yang melekat di tubuhnya. Dengan lembut, dia mendekapkan punggungku dengan jaketnya lalu kembali ke tempat duduknya. Romantis. Tetapi menyesakkan.

“Percuma kamu pakaikan jaket ini karena tanganku yang kedinginan”, omongku dengan ketus.

“Ya, benarkan sendirilah”, jawab Surya. 

Aku membenarkan pemakaian jaket ini. Wangi parfum favoritnya yang sudah menjadi favoritku juga telah menguasai indra penciumanku. Aku rindu.

“Syif”, panggil Surya kepadaku.

“Ya?”, jawabku singkat.

“Ingat waktu kamu kehilangan sepatumu di sekolah dan ternyata berada di tempat sampah, tidak?”, tanya Surya dengan senyum manis miliknya.

“Ingat. Memangnya kenapa?”, tanyaku penasaran.

“Sebenarnya itu saya yang mengumpatkan hehehe”, jawab Surya dengan tawa kecil meledek.

“Ih kok kamu jahat banget sih!”, cetusku sebal.

“Hehe, maaf ya. Entah kenapa kalau menggoda kamu itu seru banget”, kata Surya dengan senyum yang menampilkan barisan giginya yang rapih. Aku hanya membalasnya dengan wajah cemberut. Dengan gerakan cepat, dia mencubit pipiku yang chubby. Wajahku memanas. Jantungku berdegup cepat seperti ingin copot. Tetapi, hatiku tidak bahagia. Bahkan aku merasakan sakit. Dengan sigap, aku memegang tangannya untuk melepaskan cubitan tangannya dari pipiku.

“Kenapa syif?”, tanya Surya dengan heran dengan sikapku. Tanpa disadari air mata sudah membasahi pipiku. Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak bisa mencegah perasaan ini. Perasaan yang hanya dimilikku olehku. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tidak bisa bertahan dengan keadaan kita yang seperti ini. Pertemanan yang ada diantara kita tidaklah murni pertemanan.

Surya menghampiriku dengan cepat. Tangannya yang mengusap pipiku dengan lembut untuk menghapus air mataku. Tangisku pecah. Lalu dia mendekap aku, memelukku dengan erat, dan membiarkan air mataku membasahi kemeja biru miliknya. Aku terisak di dekapnya. Sungguh semua ini terasa sakit. Mengapa ini semua harus terjadi padaku? Pada kita? 

Setelah aku luapkan semua kesedihan dan rasa sakit yang menyesakkan dadaku. Surya kembali ke tempat duduknya dengan sorot matanya yang memperhatikanku.

“Syif”, panggil Surya dengan pelan. Aku menengadahkan wajahku. Mataku memandangnya. Dia pun memandangku. Kita saling memandang satu sama lain. Bola matanya yang indah berwarna hitam pekat dan sorot matanya yang lembut menambah ketenangan di hatiku.

“Sebenarnya saya mau membahas lagi masalah tentang hubungan kita”, kata Surya dengan perlahan.

“Ck”, decakanku dengan membelalakan mata sebab aku tidak ingin membahas masalah itu lagi.

“Dengarkan saya dulu”, perintahnya.

“Sebenarnya saya belum selesai menjelaskan ini waktu kemarin. Saya memang ingin kita hanya sekedar berteman tapi bukan berarti saya tidak mencintaimu. Tetapi justru karena saya mencintaimu maka saya tidak mau memacarimu. Biarkan saya menjelaskan definisi dari kata cinta yang sebenarnya yaitu, ketika seseorang menyukai sebuah bunga di taman, maka dia akan memetiknya dan bisa membuat bunga itu layu. Sama saja dia merusak bunga atau tanaman tersebut. Sedangkan jika seseorang mencintai bunga itu, maka dia tidak akan memetiknya. Dia akan menjaga dan merawatnya agar tetap hidup. Itulah saya. Jika saya memacarimu sama saja saya merusakmu. Saya tidak mau itu. Saya ingin mencintaimu dengan cara menjagamu. Sampai saya bisa menjalin hubungan yang sah denganmu”, jelas Surya dengan nada lembut.

Aku memerhatikannya dengan seksama. Tidak terduga. Selama ini aku hanya memahaminya menurut perspektif atau pandanganku saja. Tidak memahaminya dari pandangannya. Aku salah besar. Ugh!

“Sekarang kamu mengerti, kan?”, tanya Surya yang aku balas dengan anggukan kepala. Aku tersipu malu sebab kesalahanku dalam mengartikan semua ini. 

Surya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah panggung kafe. Tampak dia sedang berbisik dengan vokalis band tersebut yang kemudian direspon dengan anggukan. Surya mengambil sebuah gitar yang diberikan oleh vokalis, lalu dia duduk di sebuah kursi yang berada di depan mikrofon dengan memangku gitarnya.

Terdengar suara khas Surya yang sedang bernyanyi lagu Just For You sambil diiringi oleh gitar yang dimainkan olehnya.

Dirimu teman terbaikku

Yang mengerti yang ku mau

Yang ku suka, dan ku benci

Dan dirimu satu yang terbaik

Yang pernah aku miliki

Saat ini sampai nanti

Just for you

I give you all my heart

I give you all the sweetest things

Cause you’re the one and the best I ever have

Just for you

I give you all my love

I give you all that I can give

Cause you’re the one and the best I ever have

Just for you.

Musik berhenti. Semua pengunjung ramai memberikan applause untuknya. Surya telah selesai bernyanyi. Terlihat senyum manis yang dia tampakkan mengarah kepadaku. Sorot matanya yang menenangkan. Bahagia. Itu yang aku rasakan sekarang. Setelah aku menyadari bahwa cintaku kepadanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia mencintaiku dengan caranya sendiri. Ada sebuah pelajaran yang sangat penting telah aku dapatkan yaitu, dia mengajarkanku bahwa cinta tidak harus memiliki.

Comments On This Chapter

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Comment 0 Comments

Similar Stories

Similar Titles